skorbola365 – Manchester City kembali menuai mimpi buruk di Eropa. Tersingkirnya The Citizens oleh Real Madrid di babak 16 besar Liga Champions 2025/2026 menyisakan luka mendalam dan pertanyaan besar: Akankah kompetisi paling prestisial antar klub ini menjadi penyesalan terbesar Pep Guardiola selama masa baktinya di Etihad Stadium? Ya, dengan hanya satu trofi Si Kuping Besar dalam satu dekade, ditambah dominasi domestik yang luar biasa, potensi penyesalan itu nyata adanya, dan Anda bisa menyimak analisis mendalamnya bersama SKOR BOLA 365.
Rekor Eropa yang Pahit di Tengah Dominasi Domestik
Tidak ada yang meragukan kejeniusan Pep Guardiola. Sejak datang ke Manchester pada 2016, ia telah mempersembahkan enam gelar Premier League, empat Piala FA, dan berbagai trofi lainnya. Namun, dari sisi Liga Champions, hasilnya terbilang timpang.
Baca Juga: Unggul 5-2 di Leg Pertama, Bos PSG Waspadai Kebangkitan Chelsea
Hanya Satu Trofi dari Sepuluh Tahun
Dalam 10 tahun masa baktinya, Guardiola hanya sekali membawa City meraih gelar Liga Champions, yaitu pada musim 2022/2023 saat mengalahkan Inter Milan di final Istanbul. Selebihnya, catatan Eropa City diisi dengan kegagalan di momen-momen krusial.
-
2020/2021: Kalah di final dari Chelsea.
-
2021/2022: Tersingkir di semifinal oleh Real Madrid.
-
2022/2023: Juara (mengalahkan Inter Milan).
-
2023/2024: Tersingkir di perempat final oleh Real Madrid.
-
2025/2026: Tersingkir di 16 besar oleh Real Madrid.
Real Madrid: Mimpi Buruk yang Berulang
Jika ada satu tim yang menjadi batu sandungan terbesar Guardiola, itu adalah Real Madrid. Los Blancos telah mengeliminasi tim asuhan Guardiola sebanyak lima kali di Liga Champions, empat di antaranya bersama City. Kekalahan agregat 1-5 di musim ini menjadi bukti betapa tim asuhan Carlo Ancelotti (sebelumnya digantikan Alvaro Arbeloa) selalu tahu cara mengalahkan pasukan Guardiola.
Momen Penentu di Etihad
Pada leg kedua 17 Maret 2026 lalu, segalanya berubah dalam 23 menit pertama. Vinicius Junior menjadi bintang dengan dua golnya, satu dari titik putih setelah Bernardo Silva diusir wasit karena handsball di garis gawang. Pelatih asal Spanyol itu hanya bisa pasrah melihat timnya kalah meski menguasai permainan.
“Kami memulai dengan baik, tetapi kartu merah mengubah segalanya. Melawan Real Madrid dengan 10 pemain adalah tugas yang mustahil.”
— Ucap Guardiola usai laga, menggambarkan frustrasinya.
Erling Haaland sempat menyamakan kedudukan di babak pertama, namun itu tak cukup. Federico Valverde yang mencetak hat-trick di leg pertama, dan aksi Vinicius di leg kedua, memastikan langkah Madrid mulus. SKOR BOLA 365 mencatat, ini adalah keempat kalinya dalam lima musim Madrid menjadi algojo City.
Dilema Masa Depan Guardiola
Setelah kekalahan ini, spekulasi masa depan Guardiola memanas. Kontraknya tersisa satu tahun lagi, dan ia kerap melontarkan sindiran terkait masa depannya.
Isyarat Perpisahan?
Pernyataan seperti “Everybody wants to fire me” dan “One day I will come out here and say bye, bye guys” memicu keyakinan bahwa ini bisa jadi musim terakhirnya di Inggris. Jika benar ia pergi pada 2026, maka hanya satu gelar Liga Champions yang akan dikenang dari era emasnya di Manchester.
-
Dukungan Finansial: City telah menggelontorkan dana besar untuk membangun skuad.
-
Ekspektasi: Target utama manajemen saat merekrut Guardiola adalah menjadikan City raja Eropa.
-
Hasil: Satu trofi UCL dalam 10 tahun bisa dianggap sebagai underachievement mengingat dominasi mereka di domestik.
Analisis: Antara Legacy dan Realitas SKOR BOLA 365
Apakah Guardiola akan menyesal? Tentu. Pria yang pernah membawa Barcelona dua kali juara Liga Champions ini pasti merasa haus akan lebih banyak gelar. Hanya Carlo Ancelotti (5 gelar) yang memiliki koleksi Liga Champions lebih banyak darinya sebagai pelatih. Namun, jarak 15 tahun antara gelar keduanya di Barcelona (2011) dan gelar di City (2023) menunjukkan betapa sulitnya ajang ini dimenangkan.
Kegagalan musim ini juga mencatatkan statistik buruk: City hanya memenangkan satu dari sembilan laga knockout terakhir di Eropa. SKOR BOLA 365 melihat ada pola yang berulang: dominasi penguasaan bola tanpa konversi maksimal, dan kerap kalah secara taktis di laga-laga besar Eropa.
-
Fakta Cepat: Rekor Guardiola vs Real Madrid:
-
7 Kekalahan secara total dari Real Madrid di UCL (terbanyak bagi Guardiola melawan tim mana pun).
-
5 Kali tersingkir oleh Madrid (1x Bayern, 4x City).
-
3 Musim beruntun selalu bertemu dan kalah dari Madrid.
-
Apakah Ini Titik Akhir Sebuah Era?
Jika Guardiola pergi, warisannya di City tetap gemilang secara domestik. Namun di kancah Eropa, ia akan dikenang sebagai arsitek yang hampir berhasil, tetapi terhalang tembok bernama Real Madrid berkali-kali. Vinicius Junior, Federico Valverde, dan Thibaut Courtois adalah aktor-aktor utama yang selalu menggagalkan pesta City.
The Citizens kini harus fokus pada sisa musim, termasuk final Carabao Cup melawan Arsenal. Namun, bayang-bayang penyesalan di Liga Champions akan terus menghantui Guardiola, terutama jika ia benar-benar pamit tanpa tambahan gelar lagi.
FAQ: Pertanyaan Umum Seputar Masa Depan Guardiola dan City
1. Apakah ini benar-benar akhir dari perjalanan Guardiola di Man City?
Belum bisa dipastikan. Kontraknya masih tersisa hingga 2027, namun pernyataan bernada perpisahan dan hasil buruk di Eropa memicu spekulasi bahwa ia bisa hengkang lebih awal atau di akhir musim ini.
2. Siapa yang paling bertanggung jawab atas kegagalan ini?
Kartu merah Bernardo Silva menjadi titik balik di leg kedua. Namun secara umum, inkonsistensi di lini belakang dan kegagalan memanfaatkan peluang di leg pertama (kalah 3-0) menjadi penyebab utama tersingkirnya City.
3. Apakah Real Madrid akan kembali juara Liga Champions musim ini?
Dengan performa seperti saat mengalahkan City, Madrid jelas kandidat kuat. Mereka kemungkinan akan berhadapan dengan Bayern Munich di perempat final, dan pengalaman mereka di ajang ini selalu membuat mereka difavoritkan.
Kesimpulan: Antara 12 Trofi Domestik dan Satu Si Kuping Besar
Pep Guardiola datang ke Manchester City dengan misi menaklukkan Eropa. Namun, ironisnya, ia justru tersiksa oleh hantu Eropa yang sama berulang kali. Satu gelar Liga Champions dari sepuluh musim terasa terlalu kecil untuk ukuran skuad sekelas City.
Untuk informasi skor terbaru, LIVE SCORE pertandingan Manchester City di sisa musim ini, serta berita bola akurat lainnya, jangan lupa kunjungi SKOR BOLA 365. Apakah Guardiola akan bertahan dan membayar penyesalannya, atau memilih pergi dengan kenangan pahit? Waktu yang akan menjawab.

