Vinicius Jr Kembali Jadi Sorotan Usai Dugaan Pelecehan Rasis di Lisbon

skorbola365 – Pakar sepak bola Spanyol, Guillem Balague, berada di Estadio da Luz, Lisbon, pada Selasa malam ketika laga play-off Liga Champions antara Real Madrid dan Benfica harus dihentikan selama 10 menit.

Penghentian pertandingan terjadi setelah Vinicius Jr melaporkan dugaan pelecehan rasis yang ia alami di tengah pertandingan. Insiden ini kembali menyoroti isu diskriminasi yang belum juga tuntas dalam dunia sepak bola.

Baca juga : Arteta Bingung Pemain Arsenal Cedera Saat Pemanasan – SKOR BOLA 365

Real Madrid's Vinicius Junior hits out at 'cowards' after racism storm  against Benfica | RNZ News

Gol Indah yang Tertutup Kontroversi

Malam itu seharusnya menjadi panggung bagi mahakarya Vinicius. Penyerang berusia 25 tahun tersebut mencetak gol spektakuler yang layak menghiasi setiap headline media olahraga.

Namun, alih-alih dirayakan sepenuhnya, pertandingan justru terhenti akibat dugaan tindakan rasis. Situasi ini kembali menyeret sepak bola ke dalam polemik lama: tuduhan rasisme, penyangkalan, serta minimnya pemahaman dari berbagai pihak.

Bagi penggemar yang mengikuti perkembangan dan Skor Bola 365, momen seperti ini terasa kontras antara keindahan permainan dan sisi gelap yang masih membayangi olahraga paling populer di dunia.


Tuduhan terhadap Gianluca Prestianni

Menurut laporan, gelandang muda Argentina milik Benfica, Gianluca Prestianni, diduga melakukan pelecehan rasial terhadap Vinicius beberapa menit setelah gol tersebut tercipta.

Prestianni membantah keras tuduhan itu. Sementara itu, Vinicius mendapat dukungan kuat dari rekan-rekan setimnya. Salah satu yang paling vokal adalah Kylian Mbappe, yang mengaku mendengar istilah rasis diucapkan sebanyak lima kali selama insiden berlangsung.

Dukungan ini menunjukkan solidaritas tim sekaligus mempertegas bahwa isu ini bukan hal sepele.


Pernyataan Jose Mourinho yang Picu Perdebatan

Setelah pertandingan, pelatih Benfica, Jose Mourinho, memberikan komentar yang memicu perdebatan.

Ia menyatakan bahwa pemain berbakat seperti Vinicius seharusnya cukup menikmati gol indahnya tanpa perlu melakukan selebrasi yang dianggap memprovokasi.

Pernyataan tersebut memunculkan kritik karena dinilai menyudutkan korban alih-alih fokus pada substansi tuduhan rasisme itu sendiri.


20 Insiden dalam Delapan Tahun

Insiden di Lisbon ini menjadi yang ke-20 kalinya Vinicius mengaku mengalami dugaan pelecehan rasial selama delapan tahun membela Real Madrid.

Angka tersebut bukan hanya statistik, melainkan cerminan masalah serius yang terus berulang. Vinicius kini bukan sekadar pemain bintang, tetapi juga simbol global perlawanan terhadap diskriminasi di dunia olahraga.

Bagi para pembaca yang rutin mengikuti berita dan Skor Bola 365, kasus ini menjadi pengingat bahwa sepak bola bukan hanya soal hasil akhir di papan skor, tetapi juga tentang nilai dan integritas yang dijunjung tinggi.


Sepak Bola dan Tanggung Jawab Bersama

Sepak bola seharusnya menjadi ruang inklusif yang merayakan keberagaman. Namun, insiden demi insiden menunjukkan bahwa perjuangan melawan rasisme masih panjang.

Kasus Vinicius kembali membuka diskusi besar:

  • Bagaimana federasi dan klub menangani laporan rasisme?

  • Apakah sanksi yang diberikan sudah cukup tegas?

  • Seberapa besar peran pemain, pelatih, dan suporter dalam menciptakan lingkungan yang aman?

Yang jelas, setiap insiden seperti ini tidak boleh dianggap biasa. Sepak bola dunia harus memastikan bahwa talenta luar biasa seperti Vinicius dikenang karena prestasinya, bukan karena perjuangannya melawan diskriminasi.